Kali ini saya akan membahas tentang resensi film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Film ini dirilis pada 15 April 2010 yang disutradai oleh Deddy Mizwar. Film ini dibintangi oleh Reza Rahadian dan Deddy Mizwar. Film ini juga memperoleh banyak penghargaan. Berikut penghargannya :
Skenario Adaptasi Terbaik : Musfar Yasin
Tata Suara Terbaik : Adityawan Susanto dan Novi Dwi R.Nugroho
Tata Musik Terbaik : Ian Antono dan Thoersi Argeswara
Sinopsis :
Sejak lulus S1, hampir 2 tahun Muluk belum mendapatkan pekerjaan. Meskipun selalu gagal tetapi Muluk tidak pernah berputus asa
Pertemuan dengan pencopet bernama Komet tak disangka membuka peluang pekerjaan bagi Muluk. Komet membawa Muluk ke markasnya, lalu memperkenalkan kepada bosnya bernama Jarot. Muluk kaget karena di markas itu berkumpul anak-anak seusia Komet yang pekerjannya adalah mencopet
Akal Muluk berputar dan melihat peluang yang ia tawarkan kepada Jarot. Ia meyakinkan Jarot bahwa ia dapat mengelola keuangan mereka, dan meminta imbalan 10% dari hasil mencopet, termasuk biaya mendidik mereka
“Usaha yang dikelola Muluk berbuah, namun di hati kecilnya tergerak niat untuk mengarahkan para pencopet agar mau merubah profesi mereka. Dibantu dua rekannya yang juga sarjana, Muluk membagi tugas mereka untuk mengajar agama, budi pekerti dan kewarganegaraan. Berhasilkah mereka mendidik anaka-anak tersebut?
Resensi :
Kisah dimulai dengan kehidupan Muluk (Reza Rahadian) dan sang ayah, Makbul (Deddy Mizwar). Sudah dua tahun Muluk lulus dari bangku kuliah, tapi selama itu, Muluk masih saja menganggur. Padahal ia ingin sekali punya pekerjaan yang bisa ia banggakan pada sang ayah.
Suatu hari, Muluk tanpa sengaja memergoki anak jalanan yang sedang mencopet. Muluk pun berkenalan dengan pencopet cilik itu, Komet (Angga), namanya. Berawal dari perkenalan dengan Komet, Muluk akhirnya tahu bahwa masih banyak anak-anak sebaya Komet yang berprofesi sebagai pencopet. Tak cuma berkenalan dengan pencopet-pencopet cilik, Muluk juga berkenalan dengan Jarot (Tio Pakusadewo), bos para anak-anak jalanan pencopet ini. Selama ini Jarot mengorganisir anak-anak jalanan pencopet ini dengan rapi, bahkan ia membaginya dalam 3 kelompok, pencopet angkot, pencopet mall dan pencopet pasar.
Melihat kehidupan lain anak-anak jalanan, muncul ide di kepala Muluk. Ia menawarkan diri pada Jarot untuk mengelola keuangan para pencopet cilik ini dan mendidik mereka. Untuk itu, Muluk meminta imbalan 10% dari hasil mencopet.
Kedekatan Muluk dengan para pencopet cilik ini, lama-lama membuat hati Muluk tergerak untuk mengubah nasib anak-anak jalanan ini. Ia pun mengajak dua temannya, Syamsul (Asrul Dahlan) dan Pipit (Tika Bravani) untuk bersama-sama mendidik para anak-anak jalanan dan mengubah pola pikirnya agar tak lagi jadi pencopet.
Sungguh suatu karya film yang ditata dengan suatu kesadaran nurani pembuatnya. Di samping itu pemeran inti film ini banyak di usung para pemain baru, justru membuat film ini fresh dari image pemain muda yang sudah lekat dengan image selebritas di infotainment. Membuat kita santai menikmati muka-muka baru tanpa terganggu tingkah polah mereka diluar film/berita di infotainment.
Skenario Adaptasi Terbaik : Musfar Yasin
Tata Suara Terbaik : Adityawan Susanto dan Novi Dwi R.Nugroho
Tata Musik Terbaik : Ian Antono dan Thoersi Argeswara
Sinopsis :
Sejak lulus S1, hampir 2 tahun Muluk belum mendapatkan pekerjaan. Meskipun selalu gagal tetapi Muluk tidak pernah berputus asa
Pertemuan dengan pencopet bernama Komet tak disangka membuka peluang pekerjaan bagi Muluk. Komet membawa Muluk ke markasnya, lalu memperkenalkan kepada bosnya bernama Jarot. Muluk kaget karena di markas itu berkumpul anak-anak seusia Komet yang pekerjannya adalah mencopet
Akal Muluk berputar dan melihat peluang yang ia tawarkan kepada Jarot. Ia meyakinkan Jarot bahwa ia dapat mengelola keuangan mereka, dan meminta imbalan 10% dari hasil mencopet, termasuk biaya mendidik mereka
“Usaha yang dikelola Muluk berbuah, namun di hati kecilnya tergerak niat untuk mengarahkan para pencopet agar mau merubah profesi mereka. Dibantu dua rekannya yang juga sarjana, Muluk membagi tugas mereka untuk mengajar agama, budi pekerti dan kewarganegaraan. Berhasilkah mereka mendidik anaka-anak tersebut?
Resensi :
Kisah dimulai dengan kehidupan Muluk (Reza Rahadian) dan sang ayah, Makbul (Deddy Mizwar). Sudah dua tahun Muluk lulus dari bangku kuliah, tapi selama itu, Muluk masih saja menganggur. Padahal ia ingin sekali punya pekerjaan yang bisa ia banggakan pada sang ayah.
Suatu hari, Muluk tanpa sengaja memergoki anak jalanan yang sedang mencopet. Muluk pun berkenalan dengan pencopet cilik itu, Komet (Angga), namanya. Berawal dari perkenalan dengan Komet, Muluk akhirnya tahu bahwa masih banyak anak-anak sebaya Komet yang berprofesi sebagai pencopet. Tak cuma berkenalan dengan pencopet-pencopet cilik, Muluk juga berkenalan dengan Jarot (Tio Pakusadewo), bos para anak-anak jalanan pencopet ini. Selama ini Jarot mengorganisir anak-anak jalanan pencopet ini dengan rapi, bahkan ia membaginya dalam 3 kelompok, pencopet angkot, pencopet mall dan pencopet pasar.
Melihat kehidupan lain anak-anak jalanan, muncul ide di kepala Muluk. Ia menawarkan diri pada Jarot untuk mengelola keuangan para pencopet cilik ini dan mendidik mereka. Untuk itu, Muluk meminta imbalan 10% dari hasil mencopet.
Kedekatan Muluk dengan para pencopet cilik ini, lama-lama membuat hati Muluk tergerak untuk mengubah nasib anak-anak jalanan ini. Ia pun mengajak dua temannya, Syamsul (Asrul Dahlan) dan Pipit (Tika Bravani) untuk bersama-sama mendidik para anak-anak jalanan dan mengubah pola pikirnya agar tak lagi jadi pencopet.
Sungguh suatu karya film yang ditata dengan suatu kesadaran nurani pembuatnya. Di samping itu pemeran inti film ini banyak di usung para pemain baru, justru membuat film ini fresh dari image pemain muda yang sudah lekat dengan image selebritas di infotainment. Membuat kita santai menikmati muka-muka baru tanpa terganggu tingkah polah mereka diluar film/berita di infotainment.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar